Korupsi
Dua Pimpinan KPK Ditahan

Penilaian Ba'asyir Terhadap Cicak & Buaya

Salahnya sistem pemerintahan mengakibatkan saling bersitegangnya KPK dan Polri.

Selasa, 3 November 2009, 06:50 WIB
Amril Amarullah
Abu Bakar Baasyir (Antara)

VIVAnews -- Abu Bakar Ba’asyir pimpinan Pondok Pesantran Ngruki, Jawa Timur menyayangkan sistem pemerintahan di negara Indonesia yang salah, dan berakibat saling bersitegangnya dua lembaga pemerintah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri.

Ba'asyir melihat, pemimpinan yang sudah berkuasa di Negara Indonesia ini bukan membenahi masyarakat Indonesia maju dan berkembang. Melainkan, hanya untuk mencari keuntungan sendiri-sendiri. "Akibatnya, terjadilah konflik antara KPK dan Polri yang sampai saat ini masih kisruh," tuturnya.

Abu Bakar Ba’asyir menyikapi tindakan Polri yang melakukan penahanan terhadap dua pimpinan non aktif KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah usai acara intermediate training Latihan Kepemimpinan II Tingkat Nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang diadakan di aula Kampus Analis Kimia, Kota Bogor, Senin 2 Nopember 2009.

Tidak hanya para pemuka agama, seorang budayawan di Bali, I Gusti Ngurah Harta menyesalkan sikap tidak sportif yang ditunjukkan pemerintah terhadap penanganan kasus yang saat ini menimpa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Sepertinya ada pihak tertentu yang memiliki kepentingan untuk balas dendam. Seolah orang yang pernah ditangkap maupun yang saat ini tengah berurusan dengan KPK bersatu dan berusaha untuk menjatuhkan lembaga ini," kata Harta saat kepada VIVAnews, Senin, 2 November 2009.

Dia setuju dengan pernyataan Gus Dur untuk membentuk lembaga independen untuk mengambil langkah selanjutnya. "Sejak kasus Antasari terungkap, pekerjaan KPK menjadi terbengkalai. Mereka sibuk menjadikan KPK sebagasi sasaran tembak, bukan meneyelesaikan kasus yang ada," tutur dia.

Karena itu, mereka berharap seluruh pejabat dapat berpikir lebih cerdas, sehat, dan rasional. "Jadilan negarawan yang memikirkan negara, jangan saling main ancam dan menjatuhkan lembaga lain,"

Menurutnya, saat ini justru Indonesia menjadi negara yang lebih bodoh dari para pendiri bangsa. "Kalau dulu pendiri kita bersusah payah untuk menyatukan negeri ini kenapa justru sekarang ada pihak yang ingin memecah," tutur Ngurah.

Laporan: Ayatullah Humaeni | Bogor

• VIVAnews
Rating
Komentar
didit
24/11/2009
riba cabangnya ada 73, riba yang paling kecil dosanya sama dgn menzinai ibu kandungnya, dan riba yang paling tinggi adalah mencacat kehormatan seorang muslim, saya yakin orang yang memakai nama "hartono" n "kumpret" bukanlah orang Islam, mereka provokator
Balas   • Laporkan
wardy.m noor
03/11/2009
Mudah-mudahan dengan diiperdengarkan nya rekaman pembicaraan tersebut segala persoalan KPK dan Polri bisa lebih cepat di selesaikan dan masyarakat tidak menduga-duga yang tidak baik terhadap dua lembaga tersebut.
Balas   • Laporkan
fumam@umcntp.co.id
03/11/2009
Kok komentar anda tentang Ust Abu tidak nyambung mas. Coba mas baca sekali lagi komentar Ust Abu di atas. Insya Allah anda akan tercerahkan
Balas   • Laporkan
kumpret
03/11/2009
Berita & komentar ga penting!! engkong ini sih ga usah didenger.... kan cuma dia yg bener, trus buat negara islam indonesia deh, baru dibilang bener
Balas   • Laporkan
hartono
03/11/2009
pemikiran abu bakar ba'asyir itu cenderung suka mengkafirkan pemerintah . tidak pernah me3nilai positif pemerintah . payah !!! payah !!!1
Balas   • Laporkan
hartono
03/11/2009
para pendiri bangsa itu maoyritas manusia bertaqwa . lihat sang pahlawan yg sejati Mr muhammad nasir , lihat jendral sudirman , muhammad hatta , Mr syafrudin . tokoh hebat dan bertaqwa .tidak pernah meniggalkan sholat , tidak pernah korupsi , tidak pernah
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ