VIVAnews - Pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali, membuat pidato 'tandingan'. Kata dia pidato itulah yang seharusnya dibacakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Senin 23 November 200 malam terkait keputusan atas hasil rekomendasi Tim 8.
"Sebagai orang yang memperhatikan dan meneliti komunikasi politik, saya sungguh bermimpi pidato presiden SBY tadi malam, 23 November jadi lebih ringkas, lugas, tidak berbelok-belok, hanya memuat tiga poin saja," ujar Effendi dalam diskusi dengan pers di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Selasa 24 November 2009.
Effendi mengatakan bahwa sebenarnya pidato tandingan yang dibuatnya ini 70 persen mengadopsi dari pidato SBY semalam. Adapun 30 persennya lagi merupakan gubahan Effendi.
"70 persen diambil dari pidato presiden semalam, yang saya masukkan hanya 30 persen yang seharusnya disampaikan SBY tadi malam, yang sebenarnya menurut saya, yang 30 persen itulah yang diharapkan oleh masyarakat agar disampaikan presiden tadi malam," kata Effendi.
30 persen itu kata Effendi merupakan apa yang ditafsirkan para pemimpin media dari pertemuan dengan presiden. "Sebenarnya itu kerangka yang sudah terbangun di benak para pemred media dari pembicaraan dengan Presiden," kata Effendi.
Namun Effendi berani bertaruh gelar doktornya, bahwa masyarakat akan lebih memilih pidato yang dia buat yang dibacakan oleh presiden dibanding pidato presiden yang disampaikan tadi malam.
"Anda boleh tanya kepada masyarakat mana yang akan lebih mereka pilih untuk disampaikan presiden tadi malam, pidato beliau semalam atau pidato seperti yang saya buat, yang disampaikan," kata Effendi.
"Kalau mereka mengatakan bahwa pidato presiden semalamlah yang lebih baik, lebih bagus, saya harus melepas gelar doktor saya. Saya kembalikan saja gelar itu ke kampus lagi. Kalau begitu kan ternyata saya tidak pantas menyandang gelar doktor di bidang komunikasi politik," tambah dia.
kalo pidato tuan efendii lebih baik dari pidato pak presiden mbesok pilihan presiden aku mau pilih tuan efendi.jadi orang jangan takabur dengan mau copot gelar doktor segala allah sangat membenci orang yang sombong.
Ngomong gitu doank sih gampang, kan dia ga di poisisi " Presiden" yang punya tanggung jawab besar. Jadi Kepala Negara ga gampang bung!!
Ga segampang lho sebagai pengamat yang bebas cas cis cus sesuka hati lho!!
Gue aja orang awam, sangan amat mengerti i
Orang ini lama2 mirip sengkuni bisanya cuma mecela aja kalo udah sakit hati mau baik juga tetep diomong ngomong R aja ngga jelas jadi doktor komunikasi
Sdr. Effendy, ternyata anda manusia sombong. Sdr. berani mempertaruhkan gelar doktor karena gelar tsb. sdr. peroleh dinegeri mimpi dan sebaiknya pidato sdr. di publikasikan di negeri mimpi. Di NKRI pidato sdr. tak mempunyai arti dan sayapun menantang sdr
Sdr. Effendy, anda hanya pantas memakai gelar di Negara Mimpi karena gelar tersebut diperoleh di Negara Mimpi. Dengan perkataan Sdr. tsb ternyata anda sedang bermimpi. Sok, benar nih Sdr. Effendy.
iyo2 kang pendi,aku percoyo karo kowe...kowe memang linuweh soko kabehane.tapi ingat,kami rakyat kecil lebih suka urang yang santun,kayak pak presiden SBY.berani bertaruh,kang pendi,mesti tidak mau melepas gelarnya kan?masak,dah di kasih gelar/jabatan,mau
effendi :memang anda tidak pantas mendapat gelar doktor komunikasi politik!!! karena anda tidak bisa cara " berkomunikasi " dalam politik!!!anda cuman OMDOOOOOOOOOO!!!