VIVAnews - Selain Hesham al Warraq, buron lain yang disidang terkait kasus penggelapan dana nasabah Bank Century adalah Rafat Ali Rizvi. Keduanya disidangkan hari ini secara in absentia (tanpa kehadiran terdakwa).
Sidang kedua tersangka ini akan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis 18 Maret 2010.
Mantan Deputi Gubernur BI Aulia Pohan membenarkan Rafat Ali Rizvi dan Hesham al Warraq sebagai pemilik PT Bank Century. "Rafat itu orang paling licik di dunia," ujar Aulia di Jakarta, Selasa, 5 Januari 2010.
Menurut Aulia, jika berani seharusnya Rafat ke Indonesia. Kalau berada di Singapura, itu yurisdiksi dia sehingga dia berani bermain-main. "Tetapi, kalau berada di sini, dia ditangkap. Buktinya, dia menjadi buronan."
Dalam wawancara khusus dengan VIVAnews, Rafat membantah sebagai otak dari kasus Century. Ia justru mengaku sebagai korban dari Robert Tantular yang menjadi otak penggelapan duit nasabah bank tersebut.
Rafat adalah warga negara Inggris kelahiran Pakistan pada 22 Oktober 1960. Dia adalah mantan pemilik Century. Bersama dengan Hesham, dia bertanggung jawab atas penyimpanan aset-aset jaminan surat berharga Century di luar negeri.
Rafat menjadi eksekutif di sejumlah perusahaan di luar negeri. Di Mauritius, Rafat Ali menjadi pendiri dan Direktur Pelaksana dari First Capital Ltd yang mengelola First Global Funds PCC.
Di Singapura, Rafat Ali memiliki sejumlah perusahaan yang berkantor di sana. Di antaranya, Chinkara Capital, First Gulf Asia Holdings, Tembusu Investment Ltd dan Vantage Corp Ltd. Rafat Ali adalah pemegang saham terbesar Vantage Corp.
Rafat Ali sesungguhnya juga terdaftar sebagai direktur non eksekutif di Circle Oil Plc yang berpusat di Eropa. Namun, tidak jelas apakah ia juga menjadi pemegang saham perusahaan tersebut.
Pada 3 Juni 2009, Rafat bersama Hesham pernah berkeinginan membantu pengembalian kerugian Century, serta kesiapannya mengelola kembali Bank Century. Untuk itu, ia meminta Pemerintah RI mencabut red notice terhadap dirinya.
Namun, menurut Depkeu, sudah itu tak bisa ditindaklanjuti karena keduanya tidak menyampaikan alamat yang jelas atau identitas yang dapat dihubungi. Selain itu, dana yang ditawarkan untuk mengganti kerugian Bank Century bukan berasal dari kekayaannya, namun berasal dari milik Robert Tantular.