VIVAnews - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menduga pengungkapan kasus suap pada pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada 2004 sarat nuansa politis.
Saat itu, Miranda Swaray Goeltom terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior BI. Dugaan Megawati itu dilandaskan pada kenyataan bahwa kasus penyuapan itu sebenarnya sudah cukup lama.
"Ini saya pertanyakan karena nama-nama yang ada muncul sudah lama periodesasinya, kenapa tidak lima tahun yang lalu disebutkan," kata Megawati di Hailai Building, Ancol, Minggu 21 Maret 2010.
Tak heran, ujar Megawati, nuansa politik erat kaitannya dengan penegakkan hukum itu. Megawati berharap proses hukum yang berjalan tidak dikaitkan dengan nuansa perpolitikan.
"Karena dari dulu saya lihat ada tebang pilih," katanya.
Tentang dugaan kasus penyuapan yang melibatkan kadernya, Megawati mengatakan bahwa PDIP sangat menghargai proses hukum. "Silahkan saja diperiksa, tapi mereka juga punya hak untuk membela," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan sejumlah nama politisi PDIP yang diduga menerima suap saat pemilihan itu.
Berikut nama-nama politisi PDIP dan jumlah uang suap:
1. Panda Nababan menerima uang terbesar (Rp1,45 miliar)
2. Williem M Tutuarima (Rp500 juta)
3. Sutanto Pranoto (Rp600 juta)
4. Agus Chondro Prayitno (Rp500 juta)
5. M Iqbal (Rp500 juta)
6. Budhiningsih (Rp500 juta)
7. Poltak Sitorus (Rp500 juta)
8. Aberson M Sihaloho (Rp500 juta)
9. Rusman Lumban Toruan (Rp500 juta)
10. Max Moein (Rp500 juta)
11. JeffeyTongas Lumban Batu (Rp500 juta)
12. Matheos Pormes (Rp350 juta)
13. Engelina A Pattiasina (Rp500 juta)
14. Suratal HW (Rp500 juta)
15. Ni Luh Mariani Tirtasari (Rp500 juta)
16. Soewarno (Rp500 juta)
17. Emir Moeis (Rp200 juta)
18. Sukarjo (Rp200 juta)
Satu politisi lagi adalah Dudhie Makmun Murod Rp 500 juta. Dia kini sudah menjadi terdakwa.
• VIVAnews