VIVAnews - Kasus lonjakan suntikan modal PT Bank Century Tbk menuai kecurigaan sejumlah kalangan. Bahkan, bail out atau penyelamatan Century ini kini menjadi bola liar para politisi di senayan.
Mereka pun mendesak agar kenaikan suntikan modal menjadi Rp 6,7 triliun tersebut diaudit investigasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sejak dua pekan lalu, BPK sudah mulai mengirimkan surat kepada Bank Indonesia dan Menteri Keuangan guna melakukan audit tersebut.
Pertanyaannya, mengapa banyak pihak mencurigai lonjakan suntikan modal bank yang sebelumnya dikendalikan oleh Robert Tantular itu.
Menurut sejumlah analis dan ekonom, ada beberapa hal yang menimbulkan kecurigaan sejumlah kalangan atas lonjakan modal tersebut.
1. Magnitude dari suntikan modal itu cukup besar sampai Rp 6,7 triliun dari rencana semula Rp 630-an miliar. Tetapi, menurut Tony, lonjakan modal ini sesungguhnya merupakan subsequent event, artinya jumlah suntikan terus berubah sesuai dengan perkembangan.
"Angka bisa membengkak ketika kepanikan masyarakat atau nasabah Century meningkat, sehingga terjadi penarikan dana atau rush," kata ekonom Tony Prasetiantono melalui pesan pendek di Jakarta, Rabu, 9 September 2009.
2. Dana suntikan dianggap menguntungkan deposan besar. Ini memang tidak terhindari karena begitu pemerintah menyelamatkan Century, tujuannya sebenarnya menyelamatkan semua nasabah. Ini hal yang wajar dan alamiah karena kedudukan semua deposan sama dan diselamatkan.
Pemerintah melakukan bail out Century tanpa pretensi memihak seorang nasabah besar. Tetapi, yang paling diuntungkan memang deposan terbesar. "Tetapi, ini kan menyelamatkan sistem keuangan, bukan menyelamatkan individu tertentu," kata Tony.
3. Mengapa surat-surat berharga bermasalah tidak diberi biaya provisi atau pencadangan aset macet jauh sebelum Century diambilalih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Nilainya cukup besar, yakni surat berharga valas senilai US$ 203 juta yang berkualitas rendah serta obligasi US Treasury senilai US$ 185 juta.
"Karena itu, estimasi suntikan modal kemudian melonjak tajam menjadi Rp 6,7 triliun," kata Kepala Ekonom Grup Bank Mandiri, Mirza Adityaswara di Jakarta, Rabu, 9 September 2009.
4. Salah satu penyebab kenaikan suntikan modal Century juga adalah penggelapan dana deposito senilai US$ 18 juta milik Boedi Sampoerna di bank ini Robert dan Dewi Tantular menjelang bank ini diambilalih.
Mengapa duit Sampoerna yang dicuri oleh Dewi Tantular, namun Century atau Lembaga Penjamin Simpanan yang menomboki uang Sampoerna sehingga status depositonya pun menjadi aman.
5. Lonjakan suntikan modal Century ditengarai juga terkait dengan kepentingan politik menjelang pemilu. Namun, dugaan yang terakhir ini masih sumir dan sangat sulit dibuktikan, kecuali jika hasil audit BPK bisa menemukan dugaan tersebut.
6. Tambahan suntikan modal Century tetap dilanjutkan meskipun Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan ditolak oleh DPR pada 18 Desember 2008.
Sementara, Century terus menerus disuntik hingga Juli 2009. Ironisnya, Komisi Keuangan DPR yang menjadi mitra pemerintah pun tidak mengetahui adanya tambahan modal tersebut.
heri.susanto@vivanews.com