VIVAnews - Surat dari seseorang yang mengaku Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Susno Duadji beredar. Dalam surat itu, 'Susno' menceritakan mengenai penyadapan tersebut.
Mengenai pengakuan dalam surat elektornik tersebut, Susno Duadji menyatakan, "Alangkah naifnya Kabareskrim tak tahu kalau disadap dan alangkah naifnya kalau Kabareskrim tidak siap untuk disadap," kata Susno di Mabes Polri, Jakarta, Selasa 15 September 2009.
'Susno' dalam surat elektronik yang dikirimkan melalui alamat susno_duadji@yahoo.com itu menulis, Sejak awal saya jadi kabareskrim saya diberitau kalau telepon saya disadap KPK, dan bukan hanya hp saya saja tapi hp petinggi Polri lainya: para direktur bareskrim, Log, lantas, ka/wakapolri.
'Susno' juga mengaku sejak telpon disadap KPK, dia menggunakan kesempatan ini untuk mepermaikan Pimpinan KPK dengan cara berbicara seolah-olah akan terjadi serah terima uang suap. Pancingan dan jebakan dilakukan sebanyak tiga kali.
Menurut Susno, alat sadap kini mudah diperjualbelikan. Bahkan Polri juga menggunakan alat sadap. Salah satunya untuk mengungkap kasus-kasus terorisme.
"Alat sadap sudah tidak rahasia lagi, di mana saja ada. Jadi berhati-hatilah bicara di sini," ujarnya.