Korupsi
EKSKLUSIF
Rekaman Bukti Rekayasa KPK

Wisnu Subroto: Hebat Saya Bisa Rekayasa Kasus

"Saya malah tidak kenal Anggoro. Yang saya kenal ya si gundul itu, Pak Anggodo."

Jum'at, 23 Oktober 2009, 18:27 WIB
Arry Anggadha
Mantan JAM Intel Wisnu Subroto (SCTV)

VIVAnews - Seorang mantan pejabat tinggi Kejaksaan Agung diduga kuat terlibat dalam upaya merancang skenario kriminalisasi terhadap dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto.

Sejumlah sumber VIVAnews menuding pejabat itu adalah Wisnu Subroto, mantan Jaksa Agung Muda Intelijen. Dalam rekaman itu, menurut mereka, Wisnu merancang rekayasa kriminalisasi pimpinan KPK bersama dengan Anggodo Widjojo, adik Anggoro Widjojo--bos PT Masaro Radiocom yang kini adalah buronan KPK setelah menjadi tersangka kasus korupsi pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan.

Kepada VIVAnews, Jumat 23 Oktober 2009, Wisnu mengaku kenal dekat Anggodo Widjojo. Bahkan menurutnya mereka sering nongkrong bareng di berbagai kafe. Berikut petikan wawancara dengannya:

Nama Anda disebut-sebut dalam rekaman KPK. Tanggapan Anda?

Saya sudah mendengar hal itu. Saya mengenal Pak Anggodo sejak dua tahun lalu, tahun 2007. Dia teman saya, karena saya sering beli cincin sama dia. Tapi kok bisa saya disebut-sebut dapat merekayasa kasus? Kok bisa saya memerintahkan polisi untuk merekayasa kasus, menangkap pimpinan KPK? Itu tidak ada. Hebat sekali saya kalau bisa begitu. Lagi pula saya tidak kenal dengan Pak Bibit dan Pak Chandra.

Seberapa dekat Anda dengan Anggodo?

Dekat sekali. Pak Anggodo juga sering main ke kantor saya di Kejaksaan Agung. Saya kenal dia karena pernah beli cincin dari Pak Anggodo. Tidak cuma saya, Pak Anggodo juga kenal dengan jaksa lainnya. Kadang Pak Anggodo telepon saya, tanya sedang di mana, kemudian dia menyusul. Kita juga sering makan bareng. Saya malah tidak kenal Anggoro. Yang saya kenal ya si gundul itu, Pak Anggodo.

Kalau bertemu Anggodo, biasanya apa yang dibicarakan?

Kami guyonan saja. Tidak pernah ngomong serius. Yang jelas, dia pengusaha, punya perusahaan kayu, dan saya pernah ambil itu. Kami hanya makan-makan, ngobrol saja. Kadang dia yang bayar, kadang saya yang bayar. Jadi tidak benar kalau dia yang bayar semuanya.

Biasanya kalau bertemu di luar Kejaksaan di mana?

Kami sering bertemu di Hotel Mulia. Hampir tiap sore, seminggu rata-rata tiga kali. Tempatnya ya kalau masuk lobi di sebelah kanan kita bertemu. Di situ juga banyak saksinya. Ada sekretaris saya waktu itu, Pak Woropitan, Irwan Nasution, Prapto, dan Edu. Tidak cuma di Mulia, di Hotel Mahakam juga pernah. Di Hotel Mulia tidak hanya bertemu dengan Pak Anggodo, tapi juga anggota DPR, artis.

Bapak disebut-sebut pernah menerima mobil dari Anggodo sebagai ucapan terima kasih telah mengatur kasus pimpinan KPK. Apa benar?

Tidak benar itu. Bagaimana dia kasih mobil, wong kalau saya kurang bayar Rp.5 juta karena beli cincin saja sudah dia tagih ... hehe. Pak Anggodo itu sendiri rumahnya masih numpang dengan kakaknya, Anggoro. Kalau saya punya mobil banyak itu dari dulu. Silakan cek saja. Hebat betul saya bisa rekayasa kasus.

Terahir bertemu Anggodo?

Terakhir ya sejak adanya ramai-ramai itu, kasus Pak Antasari. Kalau tidak salah, Mei kemarin saya masih bertemu. Sampai saya pensiun sebagai JAM Intel. Setelah itu beberapa kali saya juga pernah bertemu.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
hendarman supanja
04/11/2009
lo.. pak wisnu saya kok ngga diajak..kongkow2nya
Balas   • Laporkan
caris
30/10/2009
apakah ini cerminan moral penegak hukum kita,,
Balas   • Laporkan
andre
29/10/2009
dari dulu sampai sekarang yg namanya penegakan hukum cuma slogan yg cocok untuk di baca oleh anak sd kelas satu,realisasinya nothing,kenapa bangsa ini tidak mencontoh china,kuruptor dan oknum penegak hukum,diancam hukuman seumur hidup,dan keluarga mereka
Balas   • Laporkan
Rizqi Ramadhani
27/10/2009
mana ada penjahat yang mau ngaku... Penjahat ngaku, penjara penuh...
Balas   • Laporkan
joko
26/10/2009
prihatin kalau penegak hukum kayak begini. penegak hukum sahabat sama penjahat.
Balas   • Laporkan
Abu Shabrina
26/10/2009
Kerjanya kok jadi jaksa malah keluyuran, kongkow dan makan2 melulu... pantesan aja banyak kasus yang ga teruangkap.. Kerjanya model begini.. :(
Balas   • Laporkan
SOE
26/10/2009
naudzubillah min dzalik.....
Balas   • Laporkan
Syukriy
26/10/2009
Peraturan perundangan kita memang tidak mengatur "cara bergaul" para jaksa....
Balas   • Laporkan
lp3bj
25/10/2009
Silahkan anda simpulkan sendiri, bagaimana bantahan yang disampaikan seperti menghina logika berfikir kita, Baca KOMPAS.com 21 Oktober 2009 “Bukti rekaman itu ada di Pak Tumpak Minta dia untuk membukanya,” kata Bibit Samad Rianto, pimpinan KPK nonaktif,
Balas   • Laporkan
2gno
25/10/2009
pengalaman rakyat, emang menunjukkan hal seperti itu, mana buktikan biar rakyat percaya. sikat habis koruptor dan kaki tangannya yg bercokol di institusi hukum
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau